Kamis , November 15 2018
Laki-Laki Cuci Baju Dan Piring Hanya Menjalani Sunnah Rasulullah Saw

Laki-Laki Cuci Baju Dan Piring Hanya Menjalani Sunnah Rasulullah Saw

Laki-Laki Cuci Baju Dan Piring Hanya Menjalani Sunnah Rasulullah Saw – Kira-kira pada saat saat saya berusia 10 tahun selain menyuruh belajar yang rajin kedua orang tua selalu mengajarkan saya untuk belajar mandiri. mereka tidak pernah bosan mengatakan BUKAN apa-apa itu bekal untuk kalian suatu saat jika sudah menginjak dewasa.

Walau terkadang ogah-ogahan pada waktu itu untuk mencuci baju sendiri, belajar Nyetrika, memasak nasi sampai mencari uang jajan sendiri ( Karena keluarga kami hanya buruh tani ) Sudah dapat makan sehari-hari saja sudah bersyukur.

Orang tua tidak mungkin menjerumuskan anak-anak nya TIDAK ada maksud lain menyuruh ini dan itu selain untuk kebaikan anaknya dimasa depan. Terutama ibu selalu cerewet Kamu itu jadi laki-laki harus BINANGKIT bisa ini dan itu dimana suatu saat kamu merantau jauh dari orang tua tidak akan banyak mengeluh.

Jika kamu suatu saat sudah berkeluarga pada saat istri mu melahirkan atau Sakit bisa membantunya mencuci pakaian memasak, cuci piring, merapihkan rumah dan bisa meringankan beban pekerjaan istri mu Kelak. ( Nasihat ini hampir setiap hari saya dengar )

Dan berikut ada kisah menarik dari salah satu teman yang bisa menjadi jalan kebaikan dan hikmah untuk kita semua bahwa perkerjaan rumah yang biasa dikerjakan ibu rumah tangga jika dikerjakan oleh seorang suami  tidak ada salahnya  :

Di Sore Hari aku sedang duduk santai sambil ngopi di pelataran rumahku lalu temanku menyapa dari luar rumah dan mampir untuk silahturahim,  kami duduk bersama dan mengobrol banyak tentang pengalaman kami kuliah di Saudi Arabia tepatnya di Kota Riyadh.

Tak terasa ngobrol waktupun terus berjalan Dan lagi asik-asiknya ngobrol membahas pengalaman kami , aku bilang
Maaf ya bro…!!! (Panggilan akrab ku pada temanku)
Aku mau nyucuci piring sebentar aja.
Tunggu yaaa…. Ga lama ko…!!!

Jleeeeeeeb…… !!! Temanku langsung terdiam tak keluar sepatah katapun dari mulutnya. Lalu dia berkata padaku dengan rasa kagum tapi sedikit bingung : Kamu membantu istrimu ? Aku Sangat senang melihatnya.

Seumpama Aku jadi kamu. Aku tidak mau bantuin istriku, karena pas ku bantu, dia tidak pernah memujiku. Aku pernah bersih-bersih rumah begitu capenya aku…Eh dia tidak ada rasa bersyukurnya.” Bilang makasih ke…. Apa ke..!!! (begitu kata temanku)

Aku berhenti mencuci dan menghampiri temanku lalu aku menjelaskan pada temanku ini, bahwa aku tidak sedang membantu” istriku.

Aku Hanya Menjalani Sunnah Rasulullah Saw

lalu aku tambahkan penjelasanku dengan contoh dari rasullah yang memperlakukan istri di dalam rumah tangganya.

Dalam sebuah Hadist : Rasulullah SAW. biasa melayani keperluan keluarganya, lantas ketika waktu sholat tiba, beliau pergi meninggalkan sholat. (HR. Bukhari)

Dalam keterangan hadits lain disebutkan bahwa Aisyah ra. pernah ditanya tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. ketika berada di rumah.

Lalu Aisyah ra. menjawab : Beliau menjahit bajunya sendiri, menambal terompahnya, dan mengerjakan apa-apa yang umumnya dilakukan oleh para suami di rumahnya.

Begitulah Rasulullah SAW, mau menjahit bajunya sendiri yang sobek tanpa menunggu istrinya untuk menjahitkan bajunya.

Menolong dan saling bahu membahu adalah tugas bersama untuk menjadikan kehidupan rumah tangga yang penuh keharmonisan.

Jangan takut harga diri turun, karena Rasulullah SAW pun telah memberikan contoh bagaimana menjadi suami yang baik. ( begitu kataku pada temanku )

Tidak perlu malu/gengsi apalagi sampai menanamkan “image” bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan rumah merupakan tugas dan kewajiban seorang istri.

Kalo boleh jujur aku katakan bahwa sebenarnya istriku gak butuh bantuan, tapi dia butuh teman.

Naaaah.. Bro..!!!  (Panggilan akrab pada temanku)
Aku adalah seorang teman di rumah dan kadang pandangan di masyarakat yang membuatnya seolah suami dan istri memiliki peran yang berbeda soal pekerjaan rumah tangga.

Istri mengerjakan semua, dan suami tidak membantu. Atau kalaupun membantu, hanya sedikit saja. Tapi sebenarnya itu bukan sebuah “bantuan” untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

Aku bukan sedang membantu istriku membersihkan rumah. Karena aku juga tinggal di rumah ini, maka aku perlu ikut membersihkannya juga. Aku bukan sedang membantu istriku memasak. Tapi karena aku juga ingin makan, maka aku perlu ikut memasak.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci piring setelah makan. Tapi krn aku jugalah yg memakai piring-piring itu, maka aku ikut mencucinya.

Aku bukan sedang membantu istriku mengurus anak-anak nya. Tapi krn mereka adalah anak-anakku juga, maka sebgai ayahnya, aku wajib ikut mengasuh mereka.

Aku bukan sedang membantu istriku mencuci dan melipat baju. Tapi karena baju-baju itu jg milikku dan anak-anakku, maka aku ikut membereskannya juga.

Aku bukan sebuah Bantuan di rumah, tapi aku adalah Bagian dari rumah ini. Dan soal pujian, aku memintamu wahai temanku, nanti setelah istrimu membersihkan rumah, mencuci baju, mengganti sprei, memandikan anak, memasak, membereskan barang, dll kamu harus mengucapkan terima kasih padanya, tapi harus ucapan terima kasih yang Mengagumkan gitu, seperti :

Iiiiiiihh makasih yaaa sayang sudah Mau bantu…!!! Apa itu terasa konyol bagimu?  Apa kau merasa aneh?

Padahal ketika kamu, cuma sekali seumur hidup mengepel lantai, lalu setelah selesai kau mengharapkan sebuah pujian besar dari istrimu, apa itu gak lebih aneh ? Pernahkah kau berpikir sejauh itu? Mungkin karena bagimu, budaya kita mengukuhkan bahwa semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawab istri.

Mungkin kamu kira, mengerjakan semua pekerjaan rumah yang banyak itu, bisa diselesaikan tanpa menggerakkan jari? Maka hargai dan puji istrimu seperti kamu ingin dihargai dan dipuji, dengan cara dan perlakuan yang sama.

Lets Do Anything For Your Wife

bersikaplah seperti teman sejati. Bukan seperti tamu yang datang hanya untuk makan, tidur, mandi dan terpenuhi kepuasannya.  Jadikan rumah mu adalah surgamu Merasa nyamanlah di rumahmu sendiri.

Perubahan nyata dari masyarakat, dimulai dari rumah kita. Mari ajarkan anak-anak kita, arti sebenarnya dari kebersamaan  keluarga. Semoga semua sahabatku mendapatkan teman terbaik yang saling membantu dan saling bahu membahu dalam mengurus rumah tangga.

DIBALIK HIKMAH cerita ini dan kedua orang tua mengajarkan pekerjaan rumah & banyak hal lainnya SUPAYA Suatu saat jika berumah tangga saling membantu dalam kebersamaan agar suasana rumah tangga semakin bahagia dan terasa lebih hangat.

Seorang suami harus memberikan cinta kasih sayang kepada istrinya agar istrinya memberikan cinta  dan kasih sayang kepada suami nya juga. dan ini sudah di contohkan Rasulullah Saw dalam menjalani kehidupan rumah tangganya.

Jika dirasa bermanfaat Silahlan Bagikan…!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!