Sabtu , Oktober 20 2018
Ikon Subang Selatan Tugu Seeng Tanjungsiang Cantik Lagi

Ikon Subang Selatan Tugu Seeng Tanjungsiang Cantik Lagi

Ikon Subang Selatan Tugu Seeng Tanjungsiang Cantik Lagi – Lama tidak terawat ternyata masih ada yang peduli dengan dan merasa prihatin dengan kondisi Tugu Seeng yang menjadi salah satu ikon yang memiliki nilai sejarah di kabupaten subang jawa barat.

Para relawan yang melakukan bakti sosial ini mengatas namakan komunitas Pesbuker Subang (PBS) memiliki niat baik merenovasi, membersihkan dan menata ulang tugu teeng subang selatan tersebut yang saat ini masuk ke wilayah kecamatan Cisalak pada ahad (30/4/2017)

Komunitas netizen yang mempunyai jargon “Pesbuker nu Teu Saukur Pesbukan ( artinya perbuker yang tidak hanya sekedar online Facebook saja ) sudah melakukan tahap akhir penyelsaian untuk perbaikan tugu seeng tanjung siang sekaligus melakukan kegiatan kopdar rutin para anggotanya setiap bulan.

Pasukan Pesbuker Subang yang peduli dengan keadaan tugu seeng yang memprihatinkan dengan semangat gotong royong melakukan pembersihan semak belukar yang menjadikannya kurang enak di pandang di sekitar area tugu tersebut. Seperti nampak pada gambar di bawah ini tugu dipakai untuk menjemur kasur beberapa waktu yang lalu sebelum di tata ulang

Kemudian Dilanjutkan dengan pembangunan taman di sekitarnya secara bertahap. Sementara design tamannya sendiri di tata secara sederhana oleh anggoata PBS Kang Asep Millenium.

Hal menarik dari kegiatan kopdar dan kerja bakti di tugu Seeng tersebut adalah adanya kesenian tradisonal “Lengser” dimaksudkan untuk  menandai peresmian Tugu Seeng yang baru direnovasi ini. Kegiatan baik ini kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sama.

Sejarah tugu Seeng dahulu nya adalah penanda bahwa daerah Tanjungsiang merupakan sentra pembuatan Seeng ( Tempat Masak nasi atau tradional )  Namun karena pemekaran wilayah Kecamatan, saat ini tugu tersebut masuk ke wilayah administratip Kecamatan Cisalak subang.

Sejarah antara Tugu Seeng Tanjungsiang dan Bandung Lautan Api

Peristiwa Bandung Lautan Api, 23 Maret 1946, menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di kota Bandung. lalu apa kaitanya dengan Tugu seeng tanjung siang ? Begini pada saat peristiwa tersebut penduduk kota bandung yang di perkirakan jumlahnya sekitar 1 juta jiwa mengungsi ke luar kota dan salah satunya ke daerah tanjung siang kabupaten subang.

Warga yang mengungsi diantaranya berasal dari daerah Cileunyi. Mata pencaharian sebagian warga yang jadi pengungsi ke daerah Tanjungsiang untuk bertahan hidup ialah menjadi pengrajin dandang atau seeng.

Setelah kemerdekaan di dapatkan dari penjajajah tidak semua warga yang mengungsi pulang kembali ke daerah asal nya, sebagian ada yang menetap di Tanjungsiang dengan mata pencaharian membuat dandang.

Mulai Dari sittulah pembuatan dandang atau seeng berkembang di Tanjungsiang sampai sekarang. Dan Saat ini masih ada sekitar 10 kelompok pengrajin dandang di Tanjungsiang. Penuturan Kang Ade Somantri salah satu pengrajin dandang.

Masih penuturan dari kang ade  pada awalnya yang dibuat para pengrajin adalah dandang tembaga merah, namun sekitar tahun 1975 mulai berkembang dandang warna putih yang bahan bakunya lebih murah.

Pada tahun 80 sampai dengan 90-an dandang produksi tanjungsiang mencapai puncak kejayaannya karena kebanyakan masyarakat pada saat itu memasak air atau nasi masih menggunakan kayu bakar.

Saat ini selain membuat seeng Kang ade bersama 10 kelompok pengrajin lainnya juga membuat berbagai bentuk alat dapur lainnya, seperti ketel dan susuk.

Walaupun saat ini peralatan memasak nasi atau air sudah banyak kemajuan dan serba praktis namun Seeng Tanjung siang ternyata tidak sepenuhnya ditinggalkan penggemarnya.

Di beberapa daerah seperti provinsi Banten, seeng masih menjadi alat masak pilihan sebagian warganya. Menurut Ade mungkin hal itu disebabkan karena masih banyak warga Banten yang tinggal di pinggiran hutan atau perkebunan sehingga masih banyak sumber kayu bakar yang bisa digunakan warga untuk memasak.

Selain dijual ke Banten, dandang dan alat dapur hasil produksinya juga di jual ke daerah Bogor, Indramayu dan beberapa kota lainnya.

Untuk menandai daerah Tanjungsiang sebagai sentra produkdi pembuatan seeng atau dandang, sekitar tahun 90-an dibangun tugu seeng di pinggir jalan raya Cisalak – Tanjungsiang. Disaat kondisi tugu seeng seakan hilang pamor dan dilupakan nilai sejarahnya ternyata ada kelompok atau komuitas yang masih peduli akan keberadaan tugu seeng yang menjadi ikon subang selatan ini.

Secara Pribadi saya sangat salut dan Bangga kepada komunitas pesbuker subang yang telah melaksanakan Bakti sosial ( Baksos ) Salam kenal untuk semuanya bayara PBS.

Sumber berita : Kotasubang.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!