Minggu , November 18 2018
Fungsi sejarah singkat masjid baiturrahman aceh sekarang & tempo dulu

Fungsi Sejarah Singkat Masjid Baiturrahman Aceh Sekarang & Tempo Dulu

Fungsi sejarah singkat masjid baiturrahman aceh sekarang & tempo dulu –  Masjid Raya Baiturrahman Aceh sekarang,  tampilan nya semakin indah. Di balik tampilan, masjid ini menyimpan sejarah panjang perjuangan rakyat Aceh tempo dulu

Masjid Raya Baiturrahman adalah tempat ibadah kebanggaan masyarakat Tanah Rencong ini menyimpan banyak cerita. Di sana pula-lah Jendral Kohler dari negeri kincir angin ( Belanda ) pemimpin pasukan Belanda meregang nyawa setelah tertembak pejuang asal aceh.

Sejarah masjid baiturrahman

Masjid ini didirikan pada tahun 1022 Hijriah tau tahun 1612 Maseshi oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, Masjid Baiturrahman sudah mengalami beberapa kali mengalami renovasi. Perluasan dan penambahan kubah dilakukan. Sebelum menjadi indah seperti saat ini

Masjid baiturrahman mempunya sejarah panjang. Pada saat penjajah belanda menyatakan perang terhadap kerajaan Aceh pada tanggal 26 Maret tahun 1873, para pejuang setempat menjadikan masjid sebagai markas dan benteng pertahanan.

Di mesjid ini dijadikan tempat untuk mengatur strategi dan taktik perang melawan penjajah. Para pahlawan seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien mengambil andil dalam mempertahankan keberadaan masjid Raya Baiturrahman ini.

Pasukan Belanda yang komandoi Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler mendarat di pantai Aceh pada tanggal 5 April tahun 1873. jendral ini membawa pasukan 3.198  dan sekitar 168 perwira. Peperangan pertama meletus. Pasukan penjajah awalnya berhasil menguasai Masjid Raya Baiturrahman.

Semangat para pejuang Aceh tidak menyerah begitu saja. Mereka membuat serangan balasan sehingga menyebabkan Jenderal Kohler tewas setelah tertembus peluru di dada nya. Menurut sejarah, yang menembak jendral Johan Harmen Rudolf Kohler salah satu Mujahidin dari Lueng Bata. penembak itu ada di atas pohon geulampang yang ada di depan masjid

Saat agresi tentara Belanda kedua pada tanggal 10 April bulan Shafar 1290 Hijriah/April 1873  Masehi, yang dipimpin oleh Jenderal van Swieten, masjid Baiturrahman habis dibakar. Masyarakat aceh marah besar pada saat itu. Cut Nyak Dhien yang memimpin pasukan, membakar semangat jihad para pejuang. Perang pun kembali berkecamuk

Berselang 4 tahun kemudian, Belanda kembali membangun masjid. Pembangunan tahap kedua ini dilakukan oleh Pemerintah kolonial Belanda. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Kadhi Malikul Adil pada tanggal 9 Oktober tahun 1879. Pada waktu itu, gubernur sipil dan militer dijabat oleh Jenderal K. Van Der Heijden.

Pembangunan kembali masjid sebagai bukti tanda perdamaian antara rakyar aceh dan kolonial Belanda, Pembangunan masjid selesai 2 tahun kemudian yaitu pada tanggal 27 Desember 1881 dengan biaya F.203.000 (dua ratus tiga ribu gulden).

Pemborong saat pembangunan masjid itu bernama Lie Asie. saat itu, masjid hanya dibangun dengan 1 kubah dan ukuran nya tidak terlalu luas. Masyarakat Aceh kembali menggunakan masjid ini sebagai tempat ibadah.

Berselang bebarapa tahun kemudian, renovasi kembali dilakukan. Pada tahun 1936, masjid diperluas dengan penambahan 2 kubah. Pembangunan ini atas usaha Gubernur A. Ph. Van Aken. kemudian Selanjutnya pada tahun 1957, Masjid Baiturrahman kembali dipercantik. Kubah ditambah lagi menjadi 5.

Nama masjid juga dirubah pada tahun 1957. Dari sebelumnya Masjid Raya Banda Aceh menjadi Masjid Raya Baiturrahman, Tidak berhenti  sampai di situ, perluasan Masjid Raya Baiturrahman terus dilakukan. Pada tahun 1991-1993

Misalnya, Gubernur Aceh yang menjabat saat itu Ibrahim Hasan melakukan perluasan meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya. Bagian masjid yang diperluas, meliputi bagian lantai masjid tempat shalat, perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan tempat wudhu.

Sedangkan perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir kendaraan serta 1 buah menara utama dan 2 buah minaret. Sehingga luas ruangan dalam Masjid menjadi 4.760 m2 berlantai marmer asal Italia, jenis secara dengan ukuran 60 × 120 cm dan bisa menampug kurang lebih 9.000 jamaah.

Dengan perluasan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman sekarang memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk. Sesuai dengan perkembangan, luas area Masjid Raya Baiturrahman  kurang lebih sekitar 4 hektare. Di dalamnya terdapat kolam dan menara induk.

Keberadaan masjid Baiturrahman tak hanya menjadi saksi bisu perang Aceh melawan Belanda. Saat konflik Aceh dengan Republik Indonesia berkecamuk, masjid yang memiliki ciri khas ini juga menjadi saksi bisu. Disini juga pernah diadakan Referendum yang digelar pada tahun 1999. Banyak orang berkumpul untuk menyatakan sikap pada saat itu.

Keajaiban masjid baiturrahman aceh ketika di terjang Musibah tsunami 

Saat musibah tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember tahun 2004 , ajaib nya masjid Baiturrahman tidak mengalami kerusakan yang parah karena masih berdiri kokoh. Pada saat kejadian tidak sedikit warga memilih menyelamatkan diri di dalam masjid. Lokasi ini pula dipilih sebagai tempat evakuasi jenazah korban tsunami.

Masjid baiturrahman sekarang

Masjid yang berdiri megah di jantung Kota Banda Aceh, ibu kota Provinsi aceh. Di sisi utara dan selatan, dibangun payung seperti design Masjid Nabawi di Madinah tanah suci. Lantainya terbuat dari marmer yang dipesan khusus dari negeri pizza Italia. Pembangunan landscape dan infratruktur pendukung nya memakan waktu sekitar 2 tahun.

Setelah diresmikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada pertengahan bulan Mei lalu, Masjid Baiturrahman semakin dilirik para wisatawan. fung nya selain sebagai tempat ibadah umat islam juga menjadi destinasi wisata heritage Aceh.

Berbagai pembenahan dan perbaikan terus dilakukan untuk memperkuat fungsi dan eksistensinya sebagai ikon kebanggaan masyarakat provinsi aceh. Masjid Baiturrahman ini bisa dikatakan saksi bisu perjalanan sejarah Aceh

Sumber : Detikom

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!