Selasa , April 24 2018
Makalah Kesenian Rumah Kampung Adat Cikondang Pangalengan Bandung

Makalah Kesenian Rumah Kampung Adat Cikondang Pangalengan Bandung

Makalah Kesenian Rumah Kampung Adat Cikondang Pangalengan Bandung – Membawa berlibur ke tempat wisata keluarga yang lebih modern seperti Mall dan tempat rekreasi lainnya mungkin sudah hal yang biasa untuk mengisi waktu berlibur

Bahasan kali ini saya akan mengajak anda ke salah satu tempat yang bisa dijadikan wisata edukasi dan mempekenalkan budaya ke aripan lokal di daerah kecamatan pangalengan kabupaten bandung jawa barat. Kampung adat cikondang dimana lokasi desa ini bisa memberikan suasana berlibur sekaligus menambah wawasan budaya yang secara turun temurun masih tetap terjaga

Asal Muasa Sejarah Kampung adat Pangalengan Kabupaten Bandung

Seperti dilansir dari https://dokumen.tips/ yang berisi makalah kampung adat cikondang Menurut sejarahnya, di daerah ini terdapat seke (mata air) yang ditumbuhi pohon besar yang diberi nama Kondang. seiring berjalan nya waktu selanjutnya tempat ini dinamakan Cikondang atau kampung Cikondang.

Nama tersebut adalah perpaduan antara sumber air dan pohon Kondang. Ci yaitu kependekankata “Cai” dalam bahasa indonesia artinya air ( sumber mata air), sedangkan “kondang” adalah nama pohon tersebut. Untuk menyatakan kapan dan siapa yang mendirikan kampung Cikondang sangat sulit untuk dipastikan.

Namun, masyarakat disini meyakini bahwa karuhun (leluhur) mereka adalah salah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di daerah ini. Mereka memanggilnya dengan sebutan Uyut Pameget ( Kakek buyut Laki-laki )  dan Uyut Istri ( Nenek Buyut Perempuan ) yang diyakini membawa berkah dan dapat ngauban (melindungi) anak cucunya.

Rumah adat cikondang Bandung

Pada awalnya Rumah Bangunan di Cikondang ini merupakan pemukiman dengan pola arsitektur tradisional seperti yang digunakan pada bangunan Bumi Adat.

Menurut informasi sekitar tahun 1940’an terdapat kurang lebih 60 rumah. Sekitar tahun 1942 terjadi kebakaran besar yang menghanguskan semua rumah kecuali Bumi Adat. Tidak diketahui apa yang menjadi penyebab kebakaran yang terjadi kala itu

Kuncen di Bumi Adat kampung Cikondang ( Sesepuh )

Sesepeuh atau yang  lebih dikenal dengan nama Kuncen adalah orang terpilih, dalam kesehariannya kuncen di kampung adat cikondang diharuskan mengenakan pakaian adat Sunda, lengkap dengan iket (ikat kepala). Jabatan kuncen Bumi Adat mencakup sebagai :

  • Pemangku adat
  • Sesepuh masyarakat
  • Dan pengantar ( Guide ) bagi para pejiarah

Jabatan kuncen atau ketua adat kampung Cikondang memiliki pola pengangkatan yang khas. Terdapat beberapa syarat untuk menjadi kuncen ( Sesepuh ) Diantaranya :

  1. Harus memiliki ikatan darah atau masih keturunan leluhur Bumi Adat.
  2. harus laki-laki dan dipilih berdasarkan wangsit, artinya anak seorang kuncen yang meninggal tidak secara otomatis diangkat untuk menggantikan ayahnya.
  3. Orang tersebut layak diangkat dan dipercaya menjadi kuncen apabila telah menerima wangsit. Biasanya nominasi sang anak untuk menjadi kuncen akan sirna jika pola pikirnya tidak sesuai dengan hukum adat leluhurnya.

Pergantian kuncen biasanya diawali dengan menghilangnya “cincin wulung” milik kuncen. Selanjutnya orang yang menemukannya dapat dipastikan menjadi ahli waris pengganti kuncen. Cincin wulung bisa di artikan sebagai mahkota bagi para kuncen di Bumi Adat kampung Cikondang

Kesenian Kampung adat Cikondang

Sama seperti di daerah lainnya yang memiliki ciri khas kesenian seperti di lansir oleh http://nely-mnel.blogspot.co.id Seni Budaya Kesenian yang terdapat di Kampung Adat Cikondang terdiri dari kesenian tradisional dan modern. Adapun jenis-jenis keseniannya seperti di bawah ini :

Kesenian Buhun Tradisional ( Leluhur )

  • Seperangkat gamelan
  • Seperangkat seni tarawangsa di cikondang
  • Satu kelompok seni beluk pupuh wawasan berkah
  • Beberapa group seni pencak silat

Kesenian Modern ( Masa kini )

  • Singa Depok
  • Calung
  • Kecapi
  • Degung
  • Qosidah
  • Organ Tunggal Pop Sunda

Salah satu Contoh Kesenian yang masih tetap terjaga adalah Pada wuku tahun terdapat Seni Buhun tarawangsa dengan instrument suara Rebab dan Kecapi perahu. Lagunya berupa :

  • Pamapag bandung
  • Panimbang
  • Panyaresehan
  • Dengkleung
  • Dan pangjajap.  Wuku Taun ada 3 macam, yaitu :  Wuku Taun di masing-masing rumah dan yang luas dalam mengolah sawahnya, dalam memasukan padi ke lumbung memakai seni buhun tarawangsa.

Mata Pencaharian

Di Kampung Cikondang masyarakatnta dominan bermata pencaharian sebagai petani. Karena Kampung Cikondang terletak di lereng gunung maka sangat cocok untuk lahan pertanian. Biasanya tanaman yang ditanam berupa tanaman palawija dan sebagian lahan ditanami cengkeh. kopi dan hasil panennya mereka olah sendiri yang kemudian mereka jual. penghasilan utama penduduk masyarakat disini lebih mengandalkan penghasilannya dari hasil menanam palawija.

Dilansir dari Detik.Travel 15 Muharam Tahun 1439 Hijriah Sabtu 7 Oktober 2017 merupakan hari peringatan adat wuku taun (menutup tahun) dan mapag taun (membuka tahun)

Peringatan wuku dan mapag taun ini diselenggarakan setiap tahun dan sudah berjalan empat abad ( 400 Tahun ) kata salahsatu warga adat Oak Ade Komara (54) Pada Hari Sabtu (7/10/2017)

dilaksanakannya peringatan Wuku dan Mapag Taun ini bertujuan untuk bertasakur binimah kepada Allah SWT dari tahun lalu (1438 H) sampai sekarang (1439 H). Alhamdullilah nikmat sehat, usia, rasa duka dan cita kenikmatan terasa,” tuturnya

Sebelum pelaksanaan upacara adat, pada pergantian hari Tanggal 14 ke 15 Muharam dilakukan pembersihan benda pusaka seperti keris, pisau, tombak, golok dan lainnya yang hanya dapat dilakukan oleh keturunan dari Leluhur Kampung Adat Cikondang

Tidak Hanya di khususkan untuk warga ada upacara adat ini juga bisa dihadiri oleh masyarakat umum. Silahkan datang ke alamat di Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Sumber Foto : Pikiran-Rakyat.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!